Minggu, 23 Maret 2014

Siraman Rohani

Kedengkian Sang Pati

Print E-mail


oleh: ustadz Dave Ariant Yusuf Wicaksono

Di sebuah negeri yang makmur tersebutlah seorang raja yang berhasil memajukan kesejahteraan rakyatnya. Raja mempunyai dua orang patih yang sangat dipercaya. Raja memang memerlukan dua orang patih karena wilayah negerinya terbagi dua, yaitu wilayah barat dan wilayah timur. Maka kedua patih itu pun disebut Patih Barat dan Patih Timur.
Masing-masing wilayah berbeda keadaannya. Wilayah barat, daerahnya kaya dan subur tanahnya. Sedangkan wilayah timur tanahnya kurang subur dan tidak potensial. Sungguh beruntung Patih Barat, dia tidak usah bekerja terlalu keras hingga larut malam. Sebaliknya Patih Timur, walaupun pendidikannya tidak setinggi Patih Barat tetapi ia bekerja tulus untuk Raja dan kemakmuran negerinya.
Patih Barat selalu takut hasil kekayaan yang dihasilkan wilayah barat, dipakai untuk membiayai wilayah timur. Padahal Raja berhak saja menentukan dan memeratakan kemakmuran di seluruh negerinya. Patih Timur yang selalu penuh ide untuk memberdayakan rakyatnya, tak pernah berpikir untuk meminta dana bantuan kepada Raja, meskipun Raja membolehkannya. Sebaliknya Patih Barat yang terlalu banyak waktu luang malah mempunyai keinginan-keinginan yang tidak berpihak kepada rakyat banyak.
Toh rakyatnya sudah cukup makmur, pikirnya. Dia selalu memata-matai sepak terjang Raja, dia tidak rela hasil kekayaan wilayah barat dipakai membantu wilayah timur. 
Patih Timur yang cerdik tidak pernah merasa putus asa walaupun daerahnya termasuk daerah yang gersang. Dengan selalu berdoa kepada Allah, dia tidak segan-segan turun ke lapangan. Dia tidak pernah merasa gengsi. Dia membuka sebuah lahan dan bersama-sama rakyatnya bahu membahu mengumpulkan sampah-sampah organik lalu ditutup tanah agar menjadi kompos.
Setahun kemudian kerajaan berencana mengadakan pesta besar untuk hari jadi negeri itu. Para pembesar negeri akan berdatangan sambil melaporkan keadaan negerinya. Patih Barat yang tidak pernah bersusah payah memakmurkan negerinya mempunyai perangai yang kian buruk dan semena-mena hingga rakyat dan punggawanya banyak yang mengeluh. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Patih Barat tidak segan-segan menghukum siapa saja yang berani menentangnya.
Sehari sebelum acara pesta kerajaan, Patih Barat mengundang Patih Timur. Ketika Patih Timur datang….”Nah itu dia Patih Timur, tapi kok pakaiannya mewah betul, dari mana dia dapat pakaian seperti itu. Jangan-jangan Raja mengirimkan bantuan uang kepadanya. Uang itu pasti dari pajakku setiap bulan. Huh..! tidak pantas bagi patih sampah itu berpenampilan mewah” kata Patih Barat. Lalu ia pun berpikir dengan penuh kedengkian, ”Hmm..Aku punya rencana untukmu, Patih Timur…”.
Keesokan harinya Patih Barat membuat undangan makan pagi di rumahnya, menu yang disediakan adalah makanan-makanan yang baunya khas menyengat, seperti oseng-oseng petai, semur jengkol, sedangkan buah pencuci mulutnya durian dan nangka.
Patih Timur yang sebetulnya tidak menyukai petai dan jengkol itu terpaksa dengan santunnya mencicipi makanan-makanan tersebut demi menyenangkan tuan rumah.
“Wahai Patih Timur, sebentar lagi akan ada pertemuan dengan Raja, “ujar Patih Barat memulai rencana jahatnya, “aku lupa makanan ini dapat membuat mulutmu beraroma menyengat. Bila kamu berbicara dengan Raja nanti, sebaiknya kau tutupi mulutmu”.
Setelah makan pagi selesai Patih Timur segera bergegas menuju istana Raja beserta para pengawalnya. Sementara Patih Barat yang merasa rencana pertamanya berhasil pun bergegas menuju istana Raja melalui jalur lain agar ia sampai terlebih dahulu. Ternyata benar, Patih Barat sudah sampai istana terlebih dahulu sebelum Patih Timur. Ia pun segera menemui Baginda Raja untuk melancarkan siasatnya…
“Mohon ampun, paduka. Saya hendak menyampaikan rahasia penting”
“Apa itu, Patih? Tanya Sang Raja.
“Seperti Paduka ketahui bahwa utusan dari negeri timur sudah menuju ke Ibukota ini. Namun ada berita rahasia, mata-mata kami mendengar bahwa Patih Timur telah menyebarkan fitnah yang besar. Katanya mulut raja baunya busuk dan masyarakat sudah mengetahui. Lihat saja sikapnya nanti, ia ingin menunjukkan pada orang lain bahwa mulut Paduka bau. Ia akan menutup mulutnya bila Paduka berbicara”.
Terkena hasutan Patih Barat, Sang Raja geram, “Kurang ajar Patih Timur! Dasar hidupnya di negeri sampah, pantas saja hatinya busuk! Akan kubuktikan. Kalau berita itu benar kau akan kuberi hadiah dan Patih Timur akan ku penjarakan!”
Ketika saatnya tiba, Raja sudah tidak sabar lagi menunggu rapat laporan tahunan. Namun sebelumnya Raja mengadakan pertemuan khusus dengan Patih Timur. Sementara Patih Timur sudah gemetaran bakal kena damprat, mengingat bau mulutnya yang menyengat ketika berbicara dengan raja. Ia menutupi mulutnya. Raja pun berkata dalam hati, “Hmm,, benar juga laporan Patih Barat. Patih Timur benar-benar kurang ajar!”
Kemudian Raja menuju ke laci tempat kerjanya, ia menulis sesuatu dalam secarik kertas lalu dimasukkannya ke dalam amplop. Ternyata diam-diam Patih Barat ada dibalik pintu berusaha menangkap isi pembicaraan Raja dengan Patih Timur. Tetapi dia hanya mendengar, “Ini hadiah yang pantas untukmu! Sebelumnya kau harus mendapat persetujuan dari Hakim, “titah Raja.
“Hadiah yang pantas?” Patih Barat terperangah.
“Sial benar aku! Aku tak rela dia mendapat hadiah. Itu pasti hasil pajak dari negeriku. Harus kurebut amplop itu”.
Sambil terheran-heran Patih Timur keluar ruangan sambil menutupi mulutnya. “Aneh, laporan keberhasilan negeriku belum dibicarakan, kok Raja sudah memberiku hadiah…”
Patih Timur yang tidak mengetahui dirinya diikuti, terus saja berjalan menuju rumah pak Hakim. Selang beberapa meter dari rumah pak Hakim, Patih Barat telah berhasil menyusul Patih Timur.
“Patih Timur, mau kemana kau?” tanya Patih Barat.
“Aku harus menyampaikan pesan ini kepada pak Hakim”, jawab Patih Timur.
“Hei, sebagai sahabatmu aku patut memperingatkanmu, kau cuci mulutmu dulu, baru menghadap Hakim yang galak itu. Sini kupegang amplop itu” pinta Patih Barat.
“Oh betul juga ya” kata Patih Timut polos sambil menyerahkan surat kepada Patih Barat.
Disaat Patih Timur sedang mencari air untuk berkumur, Patih Barat berlari menuju rumah pak Hakim. Kebetulan pak Hakim sedang tidak sibuk.
“Selamat siang pak Hakim, aku menyampaikan pesan ini dari Baginda Raja yang harus disetujui oleh pak Hakim”.
Pak Hakim segera membuka amplopnya, lalu mengerutkan keningnya. Sementara Patih Barat berdebar-debar menunggu keputusan pak Hakim. Tiba-tiba pak Hakim berteriak, “Pengawal! Tangkap dia dan jebloskan ke dalam penjara!”
Karena isi surat dari Sang Raja tertulis: “Penjarakan patih yang membawa surat ini, akibat perbuatan jahatnya”
Patih Barat kaget bukan kepalang. Ia meronta-ronta sambil berteriak bahwa dirinya tidak bersalah. Namun pak Hakim tidak menggubrisnya. Ia tetap memerintahkan pada pengawalnya untuk menyeret Patih Barat ke dalam penjara bawah tanah.
Tak lama kemudian Patih Timur muncul menanyakan keberadaan Patih Barat, apakah sudah menyampaikan surat dari Sang Raja kepada pak Hakim.
“Perintah Raja sudah kulaksanakan” ujar pak Hakim, tuan Patih Timur tolong sampaikan surat ini kepada Baginda Raja”.
Patih Timur pun kembali ke istana. Sesampainya disana, Sang Raja sangat terkejut melihat kehadirannya dengan membawa surat dari pak Hakim. Sang Raja langsung membaca surat itu, “Baginda Raja,, tugas sudah saya laksanakan. Patih Barat sudah berada di penjara bawah tanah”
Sang Raja benar-benar bingung dengan kejadian ini. Ia pun meminta Patih Timur untuk menjelaskannya. Patih Timur yang merasa mulutnya sudah tidak bau lagi segera menceritakan perjalanannya. Raja pun mempertanyakan mengapa mulutnya tidak ditutupi lagi. Berceritalah Patih Timur tentang undangan makan pagi di rumah Patih Barat.
Akhirnya terbongkarlah rencana busuk Patih Barat yang kini mendekam di penjara akibat perbuatannya sendiri. Siapa yang menabur akan menuai. Patih Barat telah menuai kesengsaraan akibat kedengkian yang telah ia taburkan.
Takutlah kalian pada perbuatan dengki. Sebab perbuatan dengki dapat merusak semua amal kebaikan, seperti api yang membakar kayu-kayu kering. [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Sabtu, 22 Maret 2014

Konsultasi Agama

 
Konsultasi Agama 
Bersama Hi. Aceng Karumullah, BE, SE




Assalaamu ‘alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Pak Ustadz, saya seorang ibu rumah tangga. Saya ingin bertanya sebagai berikut :
Selama ini di forum taushiah atau majelis ta’lim sering saya dengar topik tentang isteri sholihah dengan segala kriteria dan kewajibannya. Topik tersebut saya rasakan sangat bermanfaat untuk mengingatkan kami agar bisa menjadi isteri yang sholihah. Namun jarang sekali saya mendengar taushiah ataupun bahasan tentang suami yang sholih. Pertanyaan saya yang pertama : apa sih kriteria seorang suami yang sholih itu ? Hal ini saya tanyakan dengan harapan agar kelak anak-anak saya yang laki-laki bisa menjadi suami-suami yang sholih. Pertanyaan yang kedua adalah : sebenarnya boleh nggak sih saya mengajukan pertanyaan berbau jender seperti di atas ini ? Kalau sekiranya tidak boleh, ya nggak usah dijawab, Pak Ustadz. Demikian dua pertanyaan saya, maka saya sampaikan terima kasih atas kesediaan Pak Ustadz untuk membaca dan menjawab pertanyaan saya bila berkenan.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.
Ny. Sri – Bekasi


Wa ‘alaikumus-salaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Saya akan menjawab dulu pertanyaan yang kedua : bolehkah mempertanyakan hal yang berbau jender seperti di atas ini ? Jawabannya adalah : boleh. Karena di jaman Rosululloh juga pernah ada seorang wanita yang bertanya (menurut bahasa bebasnya) seperti ini : Wahai Rosul Alloh, di dalam al-Quran yang sering dibahas itu hanya kaum lelaki saja (kok kayaknya al-Quran itu hanya berorientasi kepada kaum lelaki saja), terus bagaimana dong nasib kami kaum wanita ? Maka turunlah wahyu surah al-Ahzaab ayat 35 yang berisikan : ”Sesungguhnya laki-laki maupun perempuan yang Islam; laki-laki maupun perempuan yang beriman; laki-laki maupun  perempuan  yang selalu patuh; laki-laki maupun perempuan yang jujur; laki-laki maupun perempuan yang khusyu’; laki-laki maupun perempuan yang banyak bershodaqoh; laki-laki maupun perempuan yang banyak berpuasa; laki-laki maupun perempuan yang bisa menjaga farjinya; laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir kepada Alloh, maka Alloh menyediakan bagi mereka pengampunan dan pahala yang agung”.

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan jender antara kaum lelaki dan kaum wanita dalam hal kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Alloh. Kaum lelaki maupun kaum wanita sama-sama berhak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat sebagaimana isi doa sapu jagat yang biasa dibacanya setiap hari. Tradisi jaman jahiliyah yang cenderung melecehkan kaum wanita dijawab oleh Rosululloh dengan sabdanya : ”Tidak memuliakan pada kaum wanita kecuali orang yang mulia dan tidak menghinakan pada kaum wanita kecuali orang yang hina” (HR Ibnu ’Asakir).

Adapun kriteria suami yang sholih tentu saja banyak komponennya, sebagaimana kriteria orang beriman terdapat lebih dari enam puluh cabang dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman. (HR Al-Bukhori, Kitabul-Iman). Di sini saya hanya akan menguraikan beberapa di antara kriteria suami yang sholih.

1.   Punya tanggung jawab memberi nafkah. Makanya Rosululloh pun menganjurkan para remaja untuk menikah manakala mereka sudah punya kemampuan untuk memberi nafkah. Untuk remaja yang baru punya semangat ”nafkah batin” tapi belum punya kemampuan untuk memberi nafkah lahiriah (materi) maka beliaupun menyabdakan : ”puasa saja dulu”. Diharapkan dengan puasa tersebut maka gejolak ”nafkah batin” bisa diredam. Tanggung jawab memberi nafkah tidak berarti harus berupa harta yang melimpah karena kemampuan dan rejeki setiap orang tentu saja berbeda. Dalam suatu kondisi bisa saja si isteri pun harus ikut bekerja membantu suami untuk mencari tambahan nafkah. Suatu saat bisa saja pendapatan si isteri malah lebih banyak ketimbang pendapatan suaminya. Dalam hal seperti ini tidak berarti suami bisa melepas tanggung jawab soal nafkah keluarga karena fungsi suami tetap sebagai imam keluarga.

2.    Memperlakukan keluarganya dengan lemah lembut, sebagaimana sabda Rosululloh, shollallohu ’alaihi wasallam : ”Sebaik-baik kalian adalah yang lebih baik akhlaknya dan lebih lemah lembut terhadap isterinya”. (HR At-Tirmidzi). Hal ini berarti pula bahwa suami harus bisa menghindari tindakan-tindakan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) sebagaimana Rosululloh menyindir : ”Apakah tidak malu seorang suami yang memukuli isterinya seperti memukuli hewan tapi malam harinya dia kumpuli ?”. (HR Al-Bukhori). KDRT tidak hanya berupa tindakan fisik tapi juga termasuk ucapan atau kata-kata yang mengintimidasi. Kalau istilah hadits-nya ”wa laa tuqobbih”, dilarang mendoakan jelek pada isteri atau keluarga.

3.    Tetap peduli dengan urusan internal rumah tangga. Orientasi seorang suami tidak hanya urusan luar rumah tangga seperti mencari nafkah saja tapi dia pun harus tetap peduli dengan urusan dalam rumah tangga seperti soal pendidikan anak-anak dan kebersihan serta kerapihan rumah dan lingkungannya. Bukan hal yang salah malah termasuk hal yang baik bila suami juga ikut memandikan anak-anaknya yang masih kecil, mengajak mereka bersenda-gurau atau bermain. Dan bukan hal yang hina jika suami juga ikut mencuci piring atau menyapu rumah. ’Aisyah (salah seorang isteri Rosululloh) menerangkan bagaimana kegiatan Rosululloh kalau sedang di rumah : ”Beliau selalu sibuk dengan urusan rumah tangga. Dan manakala adzan sudah terdengar maka beliau bergegas pergi ke masjid”. (HR Al-Bukhori).

4.    Berlaku sebagai roo’in (pemimpin), sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ’alaihi wasallam : ”Seorang suami adalah pemimpin bagi penghuni rumahnya dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya”. (HR Al-Bukhori, Kitabul-Ahkam). Sebagai seorang pemimpin (imam) maka suami harus bisa mengatur dengan adil, menasihati dan mendidik keluarganya. Dan metoda pendidikan yang paling effektif adalah melalui keteladanan sebagaimana Rosululloh pun dijadikan sebagai uswah-hasanah (contoh yang baik) bagi ummatnya.

Satu catatan bagi kaum isteri bahwa untuk menjadi isteri sholihah (bisa menyenangkan ketika dipandang, bisa taat ketika disuruh dan bisa menjaga kehormatan dirinya di saat suami tidak di sampingnya) tidak usah menunggu si suami menjadi sholih seratus persen dulu. Artinya jangan menjadi alasan untuk tidak hormat pada suami gara-gara suaminya belum bisa tampil sebagai suami yang sholih, karena tidak ada di antara kita ini manusia yang sempurna. Dan pada akhirnya sorga kita ditentukan oleh iman dan amal kita masing-masing. Suami masuk sorga karena dia bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami, demikian pula isteri bisa masuk surga kalau dia bisa menunaikan kewajibannya sebagai isteri.
Walloohul-musta’aan, walaa haula wa laa quwwata illaa billaah.


Wassalaamu 'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh